Kuliner Khas Jogya Manuk Londo di Cupuwatu Resto

Yang hobi kuliner atau yang suka coba-coba aneka rerasa makanan yang khas dan unik, Bismillahirrahmaanirrahiim Cupuwatu Resto Tempat Kuliner Khas Jogya bisa jadi salah satu alternatif  yang patut dipertimbangkan. Lantas apa sih daya magic yang dimiliki Resto yang berlokasi di Komplek Grand Cupuwatu Jl. Solo KM. 11,8 Kalasan, Yogyakarta ini? Pada penasaran apa penasaran pakai banget?

Menu andalan dari Restoran di Yogyakarta ini adalah MANUK LONDO atau lebih tenar dengan istilah MALON atau Burung Bule. Dari namanya saja sudah mencari perhatian kan ya? Setidaknya, saya sendiri langsung KEPO pas baca sebutan MANUK LONDO, “ Ini menu makan kok aneh banget ya?”. Kata LONDO kan menyiratkan unsur western tuh. Tapi jangan su’udzon dulu dengan berpikir jika raw materialnya impor dari eropa lho ya.  Sebenarnya penamaan LONDO ini didasarkan pada negeri asal muasal jenis unggas yang seukuran burung merpati tersebut, yaitu Perancis dengan nama asli Franch Quail. Varian unggas ini kemudian dibudidayakan di Yogyakarta oleh PT. Peksi Gunaraharja, mulai dari penetasan telur, pakan, pemotongan, hingga pengolahan lanjutan menjadi menu-menu malon yang lezat memikat cita rasa di lidah.
Tampak depan Resto Cupuwatu dan Wujud MALON
Hemmm, seriuskah memikat cita rasa di lidah? Tentunya, minimal pernah mencicipi dong kalau bisa bilang demikian?

Dalam rangka Blog Writing Competition ON the Spot yang diseleggarakan oleh Cupuwatu Resto, mengundang blogger untuk bergabung dalam acara test food dan beverage kemudian membuat tulisan bertemakan Manuk Londo dan Cupuwatu Resto. Jadinya peserta yang hadir, termasuk saya diberi kesempatan untuk mencicipi sajian menu yang ada di Cupuwatu Resto. Mekanismenya setiap peserta diminta memilih satu jenis menu makanan dan minuman saat acara sembari melakukan postingan at the moment at the place. Ngikk ngokk…ini mah tantangan baru sekaligus pertama kali bagi saya? Secara kalau nulis biasanya butuh bersemedi agar dapat wangsit untuk ditulis. Lha ini, harus bikin postingan as fast at the moment is conducting.

Then here I Am, At Cupuwatu Resto bersama 50 lebih blogger di kawasan Jogya dan sekitarnya. Saat registrasi kedatangan dan kemudian ditawari untuk memilih menu, saya tertarik dengan Malon Halilintar karena terlihat dari namanya pasti rasanya pedas menyambar dengan spektakuler. Eh lhaaa, menu tersebut ternyata sudah habis dengan sukses. Demikian juga Malon ala Peking yang juga running out dengan sukses. Ya sudahlah, bergantilah pada menu Malon BBQ kan menarik juga tuh namanya. Eaaaa… at last minute, menu yang ini pun sudah keduluan habis pula. Dengan hati ikhlas dan sukarela, Malon Bumbu Kuning yang akhirnya saya pilih dan minuman Es Teler Cupuwatu.
MALON bumbu Kuning
Paket berat banget tuh, secara pas berangkat sudah sarapan (di sesi jelang makan siang) dari rumah. Meski demikian, saya tetap bisa menikmati rasa khas kuliner yang mengangkat menu utama Manuk Londo ini.

Mau tahu rasa khasnya seperti apa?
Satu porsi yang berisikan satu ekor utuh Malon Bumbu Kuning dihidangkan dengan nasi putih, sambel bawang dan lalapan (dua slice ketimun, 1 slice tomat, 1 lembar selada).  Untuk Malonnya dimasak ungkep dengan bumbu kuning, sehingga rasanya gurih dan empuk banget bahkan sampai tulangnya pun renyah lho? Makanya dengan terpaksa paket yang menurut saya ukuran besar ini perlu dihabiskan sekalian dengan Es telernya sehingga bikin jadi seger sambil nulis. Lha gimana gak dihabiskan, wong rasanya, wong rasa bumbunya bener-bener meresap sampai ke tulang, lapisan dagingnya empuk, gurih..dan macth  dengan Tagline yang digunakan yaitu: Mmmm…hhh MANUK LONDO memang BESAR dan TAHAN LAMA Lezatnya. Rasa dagingnya jelas beda banget dengan daging-daging dari jenis unggas yang banyak beredar di wisata kuliner. Untuk ukuran, sepertinya sekira burung dara deh.
Selain 4 jenis Variasi olahan Malon: Halilintar, ala Peking, BBQ dan Bumbu Kuning yang sudah saya sebutkan, masih ada sajian menu Malon lainnya yang tak kalah kelezatannya yaitu menu Malon dengan sentuhan citarasa khas Kuliner Jogya sebagai kota Gudeg: Gudeg Malon dan Gudeg Kendil Malon. Masakan Gudeg yang khas Jogya dan Malon yang tahan lama lezatnya, hemmmm….it’s make true taste Jogya Culinery.  
Ah iya, Cupuwatu Resto ini juga melainching menu Malon untuk skala party atau keperluan hajatan yaitu Malon Sego wiwit dan Malon nasi kebuli yang bisa membuat tetamu akan terpesona dengan sajian istimewa Malon ini deh. Manuk Londo dan Cupuwatu Resto semakin melengkapi Kuliner Khas Yogyakarta pokoknya

Malon Sego Wiwit
MALON Kebuli
Bagaimana dengan kualitas menu Manuk Lando ini?
Soal kualitas, langsung bisa merujuk pada keberadaan logo HALAL yang dimiliki oleh Cupuwatu Resto. Dari simbol ini, otomatis memberikan informasi mengenai kualitas dan jaminan mutu yang bisa membuat para pecinta kuliner lebih confidence dan khusyuk dalam menikmati aneka sajian menu Manuk Londo ini. Karena suatu jenis produk yang telah dilakukan sertifikasi HALAL berarti memiliki: Sistem Jaminan Halal dan TIM Internal Auditor HALAL.

More than that, suatu jenis produk dan atau rumah makan/restauran mencantumkan label HALAL, maka jaminan mutunya adalah meliputi: Adanya komitmen dalam menerapkan GMP (Good Manufacturing Practise) dan  semua elemen yang terlibat dalam menghasilkan end produk yang diedarkan (diperdagangkan): mulai asal dan jenis bahan baku utama, pengolahan, tempat produksi, cara penyimpanan, peralatan, distribusi, sanitasi, dan semua unsur pendukungnya memiliki JAMINAN bebas dari hal-hal yang tidak halal. Dan ketika label HALAL sudah dimiliki, maka pasca issued sertifikat Halal akan ada follow up monitoring dan pemantauan secara rutin, yaitu:
  1. Inspeksi ke Sarana Produksi, dilakukan untuk memantau konsistensi perusahaan dalam penerapan Cara Produksi Pangan yang Baik (GMP) sekaligus pemantauan label halal
  2. Inspeksi ke Sarana Distribusi, meliputi: agen/distributor, hypermarket/supermarket/ minimarket/ swalayan/toko/warung/kios dan inspeksi dilakukan terutama untuk pangan olahan yang sudah berlabel halal. 
Faktanya: Franch Quail yang jadi bahan baku utama kan dibudidayakan oleh PT. Peksi Gunaraharja, yang notabene satu management dengan Cupuwau Resto tersebut, mulai pakan, pembibitan, pemotongan, dan pengolahan berada dalam satu mata rantai yang telah mendapatkan sertifikasi Halal.

Selain itu, daya saing Burung Bule  ini juga ditunjukkan oleh kandungan Gizi yang bisa ditunjukkan dari hasil uji laboratoris dari Laboratorium Pangan Hasil Ternak, Fakultas Peternakan UGM yang menunjukkan kandungan Protein yang lebih tinggi dari Bebek dan kandungan kolesterol lebih rendah dari Bebek.
Hemm…apalagi ya? 
Yayayaa….the price of course, tentu point ini merupakan salah satu variable yang penting untuk diinformasikan juga agar bisa membuat perencanaan yang klik ketika menentukan tujuan wisata kuliner khususnya saat di area Yogyakarta. Dibawah price list untuk menu utama Manuk Londo:
  • Malon BBQ: Rp. 27.500,-
  • Malon ala Peking: Rp. 27.500,-
  • Malon Bumbu Kuning: Rp. 27.500,-
  • Malon Bakar Klaten: Rp. 27.500,-
  • Malon Halilintar: Rp. 27.500,-
  • Mie Malon: Rp. 23.500,-
  • Gudeg Malon: Rp. 27.500,-
  • Gudeg Kendil Malon: Rp. 110.000,-
Secara rata-rata, bisa dibilang rate menu di Cupuwatu Resto Tempat Kuliner Khas Jogya ini cukup ramah untuk isi dompet. Lha satu porsi Malon itu cukup besar lho, saya harus memaksakan diri menghabiskannya saat test food tersebut. Lha rasanya yang Mmmm…hhh MANUK LONDO memang BESAR dan TAHAN LAMA Lezatnya, kan sangat sayang jika tak dihabiskan. Jadiii…..maksud saya, beli satu porsi Malon itu sangat bisa jika hendak disantap berdua, selain bisa lebih iritisasi kan bisa meningkatkan level keakraban, apalagi jika suami-istri kan menjadi set point untuk romantis: makan sepiring berdua, hehehhe. Jika menginginkan menu Non MAnuk Londo, di Cupuwatu resto ini juga tersedia menu-menu lainnya yang juga makslurrppp lezatnya dan harganya juga rata-rata friendly untuk wisata kuliner merakyat kok.

Nah, suasana menyantap menu Malon yang gayeng menjadi bikin betah karena tata ruang resto yang nyaman dan dilengkapi dengan free WIfi, sehingga menikmati makanan bisa lebih gayeng lagi deh. Bagi yang buta arah dan rute jalan seperti saya, tetap bisa dengan mudah menemukan lokasi resto ini yang sangat strategis jadi karena di NOL meter Jalan Raya Solo. Jika naik angkutan umum, bisa dijangkau dengan Trans Jogya, naik taxi juga tak perlu muter-muter untuk menemukan keberadaan Cupuwatu Resto tempat Kuliner Khas Jogya ini kok. Kalau dari lokasi tempat tinggal saya, Tridadi ke Cupuwatu Resto, cukup 30-an menit perjalanan (Noted: naik kendaraan sendiri dan tak ada kemacetan di rute sekitar Jombor)
Lay out ruangan Resto
Dan berdasarkan info dari PR resto, sajian malon ini belum ada ditempat lain lho? Apalagi pelayanannya sudah menerapkan sapa, salam, senyum dan dengan ramahnya cepat tanggap untuk menyajikan menu yang kita pesan. Nah, semakin isimewa kan sajian menu Malon ini?

Dan jika boleh memberi sedikittt saran, akan lebih touching and more impression jika nama asli Manuk Londo yang digunakan dalam tagline nama menunya. Dengan penyebutan nama Franch Quail, estimasi pecinta kuliner menjadi tidak bias dan bisa meminimalkan statement yang jamak kita dengar ketika seseorang dengan antusias memilih jenis kuliner yang namanya unik/nyleneh tapi ternyata isi menunya ya Eaaalaaahhh….ternyata...bla…bla..

After All, 
Dari sisi harga, jaminan keamanan pangan, kandungan gizi, lokasi resto, sistem pelayanan, bisa disimpulkan jika menu Manuk Londo yang merupakan menu andalan di Cupuwatu Resto, recommended untuk dipertimbangkan dalam daftar wisata kuliner Khas Nusantara, khususnya di Daerah Yogyakarta. 

Bagi yang sibuk atau ingin menikmati menu Malon tanpa harus keluar rumah/kantor, Cupuwatu Resto juga melayani Delivery Order lho? Just call 0274 – 4469262 dan…..daging malon yang Mmmm…hhh MANUK LONDO memang BESAR dan TAHAN LAMA Lezatnya siap dihantarkan ke tempat anda.

Masih ingin tahu lebih lengkap menu yang ada Cupuwatu Resto, silahkan check dulu di www.cupuwaturesto.com


Tulisan ini diikutkan dalam Blog Writing Competition 
yang diselenggarakan oleh Cupuwatu Resto


 Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 



Read More >>

#Letters to Aubrey from Tante Ririe – Ubii the Wonderful Kid

Bismillahirrahmanirahiim,
Dear Ubii yang makin ngegemesin,
Rasa menggebu-gebu untuk menulis surat buat Ubii, akhirnya bisa tante wujudkan dalam serangkum surat ini. Iya sih, surat ini sudah terlambat dari tenggat waktu yang ditentukan oleh Mami Ubii. Seriously, tante sudah mencanangkan diri untuk ikut berkirim surat cinta sejak tante menerima buku Letter to Aubrey pada saat acara #NgaBLOGburitAQUA beber. Tapi, apa waktu lalu. Tappppiiii....karena beberapa hal akhirnya tante baru bisa menuliskan surat ini buat Ubii. Pliss…Ubii jangan ngambeg ya? Juga semoga Ubii tetap suka cita untuk membaca surat sederhana dari tante ini.

Mau tau gak, apa hal pertama yang ingin tante sampaikan buat Ubii?
Tante mau minta maaf sama Ubii. Tuh kan, belum apa-apa tante sudah bikin salah sama Ubii, yaitu karena saat awal bertegur sapa dengan Mami Grace Melia di WA KEB dulu, tante mengira Ubii yang kerap disebut-sebut dalam percakapan adalah ubi yang hasil kebun itu. Akhirnya tante kalau Ubii merupakan nama panggilan untuk Aubrey Naiym Kayacinta. Dan asal Ubii tahu, jenis umbi-umbian yang tante kenal bernama ubi rambat  maupun ketela pohon merupakan salah satu makanan andalan jaman tante masih sekolah dulu lho? Tapi Ubii sepertinya masih belum boleh lho nyobain rasanya makan ubi tersebut. Jadi Ubii jangan merengek minta nyobain makan ketela ya?
Kembali ke Topik permintaan maaf tadi, Ubii tak keberatan kan memaafkan tante? Semoga banget Ubii dengan ikhlas maafin tante ya? Aamiin.
Hayoooo, Ubii masih mau gak ngelanjutin baca surat tante?
Bagussss, tante yakin Ubii masih semangat untuk membaca surat tante ini kan ya? Tahu kenapa tante bisa seyakin ini? Karena Ubii adalah anak yang penuh semangat dan menginspirasi. Tante tahu hal ini setelah membaca buku yang ditulis dengan penuh cinta untuk Ubii. Bagaimana semangatnya Ubii dalam menjalani terapi dan minum obat hingga menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Iya, Ubii yang didiagnosa terinfeksi virus rubella memberikan respon yang luar biasa progresif setiap kali terapi sehingga perkembangan motorik Ubii cukup pesat. Honestly, tante melihat hal ini merupakan signal yang amazing bahwa from inside diri Ubii memberikan kemauan dan semangat untuk melawan dampak infeksi virus rubella. Like your Mommy said, I’m proud of you too, Dear Ubii.

Dan masih banyak hal lain yang menunjukkan betapa bersemangatnya Ubii yang tante baca dari cerita-cerita Mami Grace yang tertuang dalam Letters To Aubrey. One day, Ubii will deeply proud to your Mommy. I believe so…

Dear Ubii the little brave princess,
Setelah membaca Letters to Aubrey, tak hanya membuat tante lebih mengenal Ubii dan rubella. Tante juga jadi lebih mengenal betapa Papi dan Mami Ubii adalah orang tua yang sangat luar biasa, kuat dan fight dalam mengekspresikan makna cinta yang sesungguhnya. Bahwa cinta tidak sekedar tentang tertawa ceria dalam kenyamanan tapi juga bagaimana menikmati setiap perjuangan dan pengorbanan dibalik kebahagiaan memiliki buah hati sehingga mampu bangkit dan bangkit lagi saat langkah kaki tersandung dilema dan permasalahan.

“ Every Mom’s born to be a great Mommy….” Demikian tulis Mami Ubii di front page buku Letters to Aubrey buat tante. Kalimat ini sebenarnya tak hanya berlaku buat calon dan para ibu, tapi bagi setiap calon dan para Ayah. Salah satu buktinya adalah Papi Ubii yang demikian sabar, telaten dan full fight bersama-sama Mami grace dalam mengasuh, mendidik dan  membesarkan Ubii. Be sure, Your parents truly love you very deeply. Semoga Ubii pun kelak akan jadi sosok a great Mommy. Meski sekarang Ubii masih usia batita, boleh kan ya tante menuliskan harapan ini?

Heii…Ubii sudah mau main lagi ya?
Ya sudah, surat tante sampai disini dulu ya? Ubii silahkan bermain lagi, setelah main Ubii langsung mandi, terus maem dan jangan rewel kalau Mami minta Ubii untuk minum obat yang dari dokter. Doa tante semoga Ubii selalu diberikan kesehatan dan kelak menjadi anak yang membanggakan orang tua dan berguna bagi bangsa dan negara.  Semoga juga Papi dan Mami Ubii selalu dilimpahi keberkahan agar selalu bisa mengasuh, mendidik dan mendampingi Ubii.

Muachhh Ubii…
Wish GOD always bless you and your lovely parents:)
 
NOTE
Sebenarnya tulisan berupa surat ini diikutkan dalam GA http://letters-to-aubrey-with-rubella.blogspot.com/2014/07/giveaway-letters-to-aubrey.html?m=1, tapi sudah closing tanggal 18 Agustus 2014. Karena sudah berniat full atensi untuk ikutan, tetap deh dipublish surat sederhana untuk Ubii yang kian ngegemesin ini walaupun sudah super too late.

Read More >>

Masjid Daarus Salaam


Masjid Daarussalaam [diresmikan 27-8-2008] berlokasi diPadukuhan Beran Kidul, Tridadi, Kec. Sleman [+300m dari tempat tinggal kami]. Capture Foto 21-07-2014, ruangan masjid berkapasitas 10 shaf @12 orang dengan pembatas permanen jamaah pria dan wanita, tapi saat sholat Jumat tentunya full pria.   

Selama Ramadhan ini jamaah tarawihnya over load, ‘kemajuan’ shaf jelang akhir Ramadhan tidak terlalu significant karena peserta tarawih tetap ada yang diluar masjid, tarawih anak-anak disediakan dirumah warga. Untuk ukuran masjid dengan mayoritas warga sekitarnya bekerja disawah ladang, gairah memakmurkan masjid sangat patut diapresiasi, infaq tarawih s/d hari ke-25 mencapai Rp. 9.952.000,- dan secara terorganisir ada 13kegiatan menghidupkan bulan Ramadhan.




 

Read More >>

Mengurai Stigma dan Diskriminasi Menjadi Keperdulian Terhadap Penderita TB

Bismillahirrahmaanirrahiim
Dunia memang sudah menapak di abad 21 yang disebut-sebut sebagai abad kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana salah satu relevansinya adalah HARUSnya kualitas kesehatan yang sudah pada level Zero discrimination terhadap semua jenis penyakit, termasuk TB [Tuberkulosis]. Informasi dan pengetahuan mengenai TB memang saat ini lebih mudah didapat,  Akan tetapi penyebaran informasi tersebut belum merata di semua lapisan masyarakat. Masih cukup banyak masyarakat yang awam tentang apa itu TB, siapa saja yang bisa terjangkit penyakit ini, mengapa bisa terpapar bakteri Tuberkulosis, kapan bisa tertular/menularkan TB dan bagaimana cara mencegah serta mengobat TB. Tak hanya itu, fakta yang masih menjadi PR besar terkait derajat kesehatan yang berpengaruh terhadap penyebaran TB adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga dan memelihara kesehatan masih perlu ditingkatkan.

Kenapa dan bagaimana Stigma bisa terjadi?
Bila stigma adalah sikap atau attitude negatif yang berhubungan atau dipengaruhi dari keyakinan atau pengetahuan [seseorang] yang terbatas, maka diskriminasi adalah ungkapan pragmatis berupa perilaku atau tindakan yang dilakukan terhadap orang lain. Stigma dan diskriminasi pada umumnya saling berkaitan erat yang membuat seseorang memiliki pandangan negatif terhadap orang lain [kelompok masayarakat tertentu] yang dianggap mempunyai sesuatu yang tidak baik.

Ketidaktahuan bisa diakibatkan karena memang tidak tahu atau memperoleh informasi yang tidak akurat. Dan jika hal ini terkait dengan penyakit TB, maka akan menjadi barier dan pemicu timbulnya stigma di masyarakat karena mereka mendapatkan pengetahuan tentang TB secara sepotong-spotong ataupun tidak tepat sehingga sampai saat ini masih banyak orang yang menganggap  penyakit  TB sebagai:
  1. penyakit kutukan yang tidak bisa disembuhkan/mematikan, padahal view of pointnya adalah pengobatan TB memang minimal HARUS 6 bulan secara kontinyu dan disiplin mematuhi petunjuk dokter;
  2. penyakit menurun yang tak ada obatnya, misalnya sang ayah menderita TB, jika anaknya juga terkena TB dianggap sebagai hal yang wajar karena sudah membawa penyakit bawaan dari orang tuanya. Padahal sumbernya jelas PENULARAN akibat tinggal secara bersama-sama dalam satu rumah dan selama si bapak mengidap penyakit TB tidak ada upaya pengobatan yang comprehensive.
Tidak mengherankan jika masih banyak terjadi kasus stigmatisasi terhadap penderita TB yang berlanjut dengan tindakan diskriminatif yang dilakukan oleh anggota masyarakat terhadap penderita TB walaupun jenis  penyakit ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Kategori tindakan diskriminatif yang sering terjadi berupa: perbedaan perlakuan, penolakan dan pembatasan yang dialami oleh penderita TB antara lain: pengusiran, pengasingan, pengacuhan/tidak mendapatkan pelayanan pada suatu lembaga layanan publik dan atau bahkan kesehatan, PHK dari pekerjaaan dan lain sebagainya.

Korelasi Stigma dan Diskriminasi
Berawal dari ketidaktahuan tentang apa, mengapa dan bagimana penyakit TB apalagi jika ditambah dengan informasi yang tidak benar, membuat orang-orang yang berada di sekitar penderita TB menjaga jarak dengan mengucilkan, menjauhi, antipati dan yang lebih parahnya bilamana sikap-sikap tersebut menyebar pada anggota masyarakat lainnya. 
Ketika stigma + diskriminasi telah berkoloni menjadi satu kesatuan, maka akan memperparah kondisi penderita TB khususnya dan penanggulangan TB itu sendiri. 
Bukankah terinfeksi dan menjadi penderita TB saja sudah merupakan situasi sulit yang harus dihadapi oleh seseorang karena: tidak bisa beraktifitas secara maksimal atau bahkan harus beristirahat total sementara biaya hidup sehari-hari tak mungkin ikut dihentikan? Kemudian masih diberi “bonus” dengan stigma dan diskriminasi dari orang-orang di lingkungan sekitarnya, alhasil  penderita TB  jadi enggan untuk pergi berobat meskipun sudah tahu jika pengobatannya gratis. Jikalau pun sudah menjalani pengobatan bisa jadi akan terputus di tengah – tengah masa pengobatan karena:
  • menutup diri/menutupi penyakitnya karena tidak ingin dijauhi oleh masyarakat sehingga penyakitnya tidak terdeteksi secara cepat
  • pesimis akut jika penyakitnya bisa disembuhkan  karena waktu pengobatannya lama
  • tidak punya motivasi untuk sembuh manakala lebih banyak orang yang memiliki stigma negatif akan penyakitnya dan tidak ada pula orang yang mendampingi dalam menjalani proses pengobatannya.
Dengan masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap penderita TB, pihak yang paling diuntungkan adalah virus Tuberkulosis itu sendiri karena orang yang [menyadari] tahu dirinya mengalami gejala semacam TB menjadi takut untuk mengetahui jenis penyakit yang sesungguhnya dialaminya. Dan bagi yang sudah tahu dirinya terpapar virus TB akan enggan atau tidak punya motivasi untuk mengakses pelayanan kesehatan, sehingga terjadilah ekosistem yang berada dalam kotak pandora jika stigma dan diskriminasi terhadap penderita TB ini belum bisa diminimalisir dari masyarakat kita.  Penularan dan kematian yang terkait dengan TB ini akan jalan terus karena:
  • penyakit semakin parah karena terlambat menjalani terapi pengobatan
  • jumlah penderita TB semakin banyak bilamana orang yang sudah positif menderita TB tidak terdeteksi jenis penyakitnya karena sikap menutup diri di atas.
  • stigmatisasi makin merajalela, ketakutan semakin menjadi dan kematian akibat TB akan semakin tinggi pula
Bisa dibilang bahwa stigma dan diskriminasi merupakan lingkaran ancaman yang serius, tapi sekaligus tantangan yang  harus dijawab dengan menguraikannya dari hulu permasalahan. Seperti telah diketahui bahwasanya stigma bersumber dari ketidaktahuan dan atau mendapatkan informasi yang tidak benar sehingga menjadikan seseorang bertindak secara diskriminasi: tidak perduli, menjaga jarak, mengucilkan dan ekspresi sikap antipati lainnya, sehingga cara yang terbaik untuk menuju Zero discrimination adalah dengan meningkatkan pengetahuan mengenai TB yang akurat, tepat dan benar agar
“lingkaran maut” akibat penyakit TB  tidak berputar terus menerus sampai akhir kehidupan.

Mengurai Stigma dan Diskriminasi terhadap penderita TB
Faktor utama penyebab adanya stigma dan diskriminasi adalah pengetahuan tentang TB yang belum merata, maka untuk menguraikan permasalahan tersebut adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan kepedulian akan kebutuhan pribadi dan orang lain untuk hidup sehat. Kesehatan adalah Hak Asasi Manusia yang meliputi hak untuk mengetahui dan melindungi kondisi kesehatan pribadi, hak untuk mempertahankan derajat kesehatan pribadi serta hak untuk meningkatkan kesehatan pribadi keluarga dan masyarakat. Selaras dengan hal ini pula bahwa faktor utama penyembuhan dan upaya pencegahan TB adalah pada disiplin dan peningkatan pengetahuan, mulai dari keluarga sebagai unit terkecil dari lingkungan masyarakat hingga di tingkat lokal maupun nasional menjadi amat penting guna menciptakan lingkungan yang lebih bersahabat bagi penderita TB dengan tanpa menularkan bakteri tuberkulosis pada orang yang sehat di sekitarnya.

Oleh, sebab itu yang pertama perlu dipahamkan untuk mengurai Stigma dan Diskriminasi terhadap penderita TB adalah dengan pendekatan dari individu itu sendiri agar mampu menahan stigma dari luar dan berusaha memahamkan  tentang penyakit TB itu sendiri ke semua lini masyarakat bahwa TB TIDAK SULIT untuk dihindari dan SANGAT BISA disembuhkan. Dengan mengetahui dan memahami bahwa Mycobacterium tuberculosis yang menjadi penyebab TB berkembang dengan cepat pada wilayah yang berpopulasi padat, ruangan dengan ventilasi yang  tidak lancar dan lingkungan yang tidak hygiene, maka  masyarakat dengan kesadaran sendiri akan berperilaku hidup yang tidak berisiko terhadap penyakit TB dengan menjalani pola hidup sehat yang meliputi:
-    pola makan yang memenuhi aspek minimal 4 sehat,
-    pola tempat tinggal yang bersih dan memiliki ventilasi cukup untuk sirkulasi udara,
-    dan pola aktifitas sehari-hari yang warnai gerak fisik [olah raga] yang cukup.

Yang kedua, perlu dimasyarakatkan pengetahuan mengenai cara-cara penularan bakteri TB. Dengan mengetahui titik-titik kritis yang menjadi  jalan masuk dan penyebaran penyakit TB, maka masyarakat akan menjadi aware untuk bersikap preventif dengan tetap perduli/memberikan support moril dan bantuan yang dibutuhkan jika menemukan orang-orang di sekitarnya sedang terkena penyakit TB, yaitu dengan berperilaku:
  • Menggunakan masker untuk mencegah penyebaran bakteri penyebab TBC.
  • Meminimalkan kontak dengan banyak orang JIKA di suspect sebagai penderita penyakit TBC aktif.
Yang ketiga, penting untuk di doktrinkan bagi penderita TB dan keluarganya bahwa:
  • Penyakit TB sangat bisa untuk disembuhkan dan pengobatan TB gratis sehingga seseorang yang teridentifikasi penyakit TB mau menjalani pengobatan dan punya motivasi yang kuat untuk sembuh.
  • Masa pengobatan TB minimal 6 bulan atau sesuai dengan hasil diagnosa dari rumah sakit.
  • Selama masa pengobatan harus dijalani secara disiplin dan kontinyu sesuai yang telah diresepkan oleh dokter atau petugas kesehatan.
  • Pentingnya bersikap co-operative termasuk tidak meludah [mengeluarkan dahak] sembarang tempat, serta terbiasa menggunakan masker manakala perlu berinteraksi dengan orang lain.
EPILOG
Mengurai Stigma dan Diskriminasi Menjadi Keperdulian Terhadap Penderita TB memang bukan hal yang mudah, tapi juga BUKAN hal yang mustahil untuk dilakukan. Seperti tercermin dalam bait lagu “Usah Kau simpan Lara Sendiri” berikut ini:
……………………….
letakkanlah tanganmu di atas bahuku
biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
di depan sana cahya kecil 'tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan... menghadapinya ...
sekali sempat kau mengeluh kuatkah bertahan
satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh
kudatang sahabat bagi jiwa
saat batin merintih usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa
………………………………..
Dengan membangun jaring-jaring penyebaran informasi dan pengetahuan yang comprehensive mengenai penyakit TB melalui berbagai media, baik on line [termasuk kompetiblog #SembuhkanTB ini], off line, on air maupun organisasi kemasyarakatan di tingkat RT/RW, maka stigmatisasi di masyarakat menurun akan secara linear akan dan otomatis diskriminasi juga semakin  berkurang. Maka secara bersama-sama kita bisa mencapai tujuan pengendalian TB di Indonesia yaitu:menurunnya jumlah kasus baru TB dengan target jangka panjang adalah zero new infection); menurunnya diskriminasi  hingga ke level zero discrimination; dan otomatis menurunnya angka kematian akibat penyakit TB  yang serendah mungkin.



Untuk Informasi lebih lengkap, bisa dilihat dari beberapa Referensi TB berikut ini:
1. http://www.tbindonesia.or.id/
2. www.stoptbindonesia.org
3. www.tbdayindonesia.org
4. www.pppl.kemkes.go.id


Read More >>

Peran Proaktif Masyarakat sebagai Katalisator Pengendalian TB

Bismillahirrahmaanirrahiim
Secara umum dan sekaligus merupakan fakta jika kemiskinan, lingkungan yang kumuh, demografi penduduk yang padat berdampak significant pada rendahnya kualitas dan derajat kesehatan karena  terbatasnya kemampuan untuk mengakses pola dan  perilaku hidup bersih dan sehat. Kondisi yang komplek tersebut, menjadi pemicu aktif terjangkitnya Penyakit tuberkulosis terhadap komunitas penduduk di daerah tersebut. 
 
 
~ To Be Continue....

Read More >>