Masjid Daarus Salaam


Masjid Daarussalaam [diresmikan 27-8-2008] berlokasi diPadukuhan Beran Kidul, Tridadi, Kec. Sleman [+300m dari tempat tinggal kami]. Capture Foto 21-07-2014, ruangan masjid berkapasitas 10 shaf @12 orang dengan pembatas permanen jamaah pria dan wanita, tapi saat sholat Jumat tentunya full pria.   

Selama Ramadhan ini jamaah tarawihnya over load, ‘kemajuan’ shaf jelang akhir Ramadhan tidak terlalu significant karena peserta tarawih tetap ada yang diluar masjid, tarawih anak-anak disediakan dirumah warga. Untuk ukuran masjid dengan mayoritas warga sekitarnya bekerja disawah ladang, gairah memakmurkan masjid sangat patut diapresiasi, infaq tarawih s/d hari ke-25 mencapai Rp. 9.952.000,- dan secara terorganisir ada 13kegiatan menghidupkan bulan Ramadhan.




 

Read More >>

Mengurai Stigma dan Diskriminasi Menjadi Keperdulian Terhadap Penderita TB

Bismillahirrahmaanirrahiim
Dunia memang sudah menapak di abad 21 yang disebut-sebut sebagai abad kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana salah satu relevansinya adalah HARUSnya kualitas kesehatan yang sudah pada level Zero discrimination terhadap semua jenis penyakit, termasuk TB [Tuberkulosis]. Informasi dan pengetahuan mengenai TB memang saat ini lebih mudah didapat,  Akan tetapi penyebaran informasi tersebut belum merata di semua lapisan masyarakat. Masih cukup banyak masyarakat yang awam tentang apa itu TB, siapa saja yang bisa terjangkit penyakit ini, mengapa bisa terpapar bakteri Tuberkulosis, kapan bisa tertular/menularkan TB dan bagaimana cara mencegah serta mengobat TB. Tak hanya itu, fakta yang masih menjadi PR besar terkait derajat kesehatan yang berpengaruh terhadap penyebaran TB adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga dan memelihara kesehatan masih perlu ditingkatkan.

Kenapa dan bagaimana Stigma bisa terjadi?
Bila stigma adalah sikap atau attitude negatif yang berhubungan atau dipengaruhi dari keyakinan atau pengetahuan [seseorang] yang terbatas, maka diskriminasi adalah ungkapan pragmatis berupa perilaku atau tindakan yang dilakukan terhadap orang lain. Stigma dan diskriminasi pada umumnya saling berkaitan erat yang membuat seseorang memiliki pandangan negatif terhadap orang lain [kelompok masayarakat tertentu] yang dianggap mempunyai sesuatu yang tidak baik.

Ketidaktahuan bisa diakibatkan karena memang tidak tahu atau memperoleh informasi yang tidak akurat. Dan jika hal ini terkait dengan penyakit TB, maka akan menjadi barier dan pemicu timbulnya stigma di masyarakat karena mereka mendapatkan pengetahuan tentang TB secara sepotong-spotong ataupun tidak tepat sehingga sampai saat ini masih banyak orang yang menganggap  penyakit  TB sebagai:
  1. penyakit kutukan yang tidak bisa disembuhkan/mematikan, padahal view of pointnya adalah pengobatan TB memang minimal HARUS 6 bulan secara kontinyu dan disiplin mematuhi petunjuk dokter;
  2. penyakit menurun yang tak ada obatnya, misalnya sang ayah menderita TB, jika anaknya juga terkena TB dianggap sebagai hal yang wajar karena sudah membawa penyakit bawaan dari orang tuanya. Padahal sumbernya jelas PENULARAN akibat tinggal secara bersama-sama dalam satu rumah dan selama si bapak mengidap penyakit TB tidak ada upaya pengobatan yang comprehensive.
Tidak mengherankan jika masih banyak terjadi kasus stigmatisasi terhadap penderita TB yang berlanjut dengan tindakan diskriminatif yang dilakukan oleh anggota masyarakat terhadap penderita TB walaupun jenis  penyakit ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Kategori tindakan diskriminatif yang sering terjadi berupa: perbedaan perlakuan, penolakan dan pembatasan yang dialami oleh penderita TB antara lain: pengusiran, pengasingan, pengacuhan/tidak mendapatkan pelayanan pada suatu lembaga layanan publik dan atau bahkan kesehatan, PHK dari pekerjaaan dan lain sebagainya.

Korelasi Stigma dan Diskriminasi
Berawal dari ketidaktahuan tentang apa, mengapa dan bagimana penyakit TB apalagi jika ditambah dengan informasi yang tidak benar, membuat orang-orang yang berada di sekitar penderita TB menjaga jarak dengan mengucilkan, menjauhi, antipati dan yang lebih parahnya bilamana sikap-sikap tersebut menyebar pada anggota masyarakat lainnya. 
Ketika stigma + diskriminasi telah berkoloni menjadi satu kesatuan, maka akan memperparah kondisi penderita TB khususnya dan penanggulangan TB itu sendiri. 
Bukankah terinfeksi dan menjadi penderita TB saja sudah merupakan situasi sulit yang harus dihadapi oleh seseorang karena: tidak bisa beraktifitas secara maksimal atau bahkan harus beristirahat total sementara biaya hidup sehari-hari tak mungkin ikut dihentikan? Kemudian masih diberi “bonus” dengan stigma dan diskriminasi dari orang-orang di lingkungan sekitarnya, alhasil  penderita TB  jadi enggan untuk pergi berobat meskipun sudah tahu jika pengobatannya gratis. Jikalau pun sudah menjalani pengobatan bisa jadi akan terputus di tengah – tengah masa pengobatan karena:
  • menutup diri/menutupi penyakitnya karena tidak ingin dijauhi oleh masyarakat sehingga penyakitnya tidak terdeteksi secara cepat
  • pesimis akut jika penyakitnya bisa disembuhkan  karena waktu pengobatannya lama
  • tidak punya motivasi untuk sembuh manakala lebih banyak orang yang memiliki stigma negatif akan penyakitnya dan tidak ada pula orang yang mendampingi dalam menjalani proses pengobatannya.
Dengan masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap penderita TB, pihak yang paling diuntungkan adalah virus Tuberkulosis itu sendiri karena orang yang [menyadari] tahu dirinya mengalami gejala semacam TB menjadi takut untuk mengetahui jenis penyakit yang sesungguhnya dialaminya. Dan bagi yang sudah tahu dirinya terpapar virus TB akan enggan atau tidak punya motivasi untuk mengakses pelayanan kesehatan, sehingga terjadilah ekosistem yang berada dalam kotak pandora jika stigma dan diskriminasi terhadap penderita TB ini belum bisa diminimalisir dari masyarakat kita.  Penularan dan kematian yang terkait dengan TB ini akan jalan terus karena:
  • penyakit semakin parah karena terlambat menjalani terapi pengobatan
  • jumlah penderita TB semakin banyak bilamana orang yang sudah positif menderita TB tidak terdeteksi jenis penyakitnya karena sikap menutup diri di atas.
  • stigmatisasi makin merajalela, ketakutan semakin menjadi dan kematian akibat TB akan semakin tinggi pula
Bisa dibilang bahwa stigma dan diskriminasi merupakan lingkaran ancaman yang serius, tapi sekaligus tantangan yang  harus dijawab dengan menguraikannya dari hulu permasalahan. Seperti telah diketahui bahwasanya stigma bersumber dari ketidaktahuan dan atau mendapatkan informasi yang tidak benar sehingga menjadikan seseorang bertindak secara diskriminasi: tidak perduli, menjaga jarak, mengucilkan dan ekspresi sikap antipati lainnya, sehingga cara yang terbaik untuk menuju Zero discrimination adalah dengan meningkatkan pengetahuan mengenai TB yang akurat, tepat dan benar agar
“lingkaran maut” akibat penyakit TB  tidak berputar terus menerus sampai akhir kehidupan.

Mengurai Stigma dan Diskriminasi terhadap penderita TB
Faktor utama penyebab adanya stigma dan diskriminasi adalah pengetahuan tentang TB yang belum merata, maka untuk menguraikan permasalahan tersebut adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan kepedulian akan kebutuhan pribadi dan orang lain untuk hidup sehat. Kesehatan adalah Hak Asasi Manusia yang meliputi hak untuk mengetahui dan melindungi kondisi kesehatan pribadi, hak untuk mempertahankan derajat kesehatan pribadi serta hak untuk meningkatkan kesehatan pribadi keluarga dan masyarakat. Selaras dengan hal ini pula bahwa faktor utama penyembuhan dan upaya pencegahan TB adalah pada disiplin dan peningkatan pengetahuan, mulai dari keluarga sebagai unit terkecil dari lingkungan masyarakat hingga di tingkat lokal maupun nasional menjadi amat penting guna menciptakan lingkungan yang lebih bersahabat bagi penderita TB dengan tanpa menularkan bakteri tuberkulosis pada orang yang sehat di sekitarnya.

Oleh, sebab itu yang pertama perlu dipahamkan untuk mengurai Stigma dan Diskriminasi terhadap penderita TB adalah dengan pendekatan dari individu itu sendiri agar mampu menahan stigma dari luar dan berusaha memahamkan  tentang penyakit TB itu sendiri ke semua lini masyarakat bahwa TB TIDAK SULIT untuk dihindari dan SANGAT BISA disembuhkan. Dengan mengetahui dan memahami bahwa Mycobacterium tuberculosis yang menjadi penyebab TB berkembang dengan cepat pada wilayah yang berpopulasi padat, ruangan dengan ventilasi yang  tidak lancar dan lingkungan yang tidak hygiene, maka  masyarakat dengan kesadaran sendiri akan berperilaku hidup yang tidak berisiko terhadap penyakit TB dengan menjalani pola hidup sehat yang meliputi:
-    pola makan yang memenuhi aspek minimal 4 sehat,
-    pola tempat tinggal yang bersih dan memiliki ventilasi cukup untuk sirkulasi udara,
-    dan pola aktifitas sehari-hari yang warnai gerak fisik [olah raga] yang cukup.

Yang kedua, perlu dimasyarakatkan pengetahuan mengenai cara-cara penularan bakteri TB. Dengan mengetahui titik-titik kritis yang menjadi  jalan masuk dan penyebaran penyakit TB, maka masyarakat akan menjadi aware untuk bersikap preventif dengan tetap perduli/memberikan support moril dan bantuan yang dibutuhkan jika menemukan orang-orang di sekitarnya sedang terkena penyakit TB, yaitu dengan berperilaku:
  • Menggunakan masker untuk mencegah penyebaran bakteri penyebab TBC.
  • Meminimalkan kontak dengan banyak orang JIKA di suspect sebagai penderita penyakit TBC aktif.
Yang ketiga, penting untuk di doktrinkan bagi penderita TB dan keluarganya bahwa:
  • Penyakit TB sangat bisa untuk disembuhkan dan pengobatan TB gratis sehingga seseorang yang teridentifikasi penyakit TB mau menjalani pengobatan dan punya motivasi yang kuat untuk sembuh.
  • Masa pengobatan TB minimal 6 bulan atau sesuai dengan hasil diagnosa dari rumah sakit.
  • Selama masa pengobatan harus dijalani secara disiplin dan kontinyu sesuai yang telah diresepkan oleh dokter atau petugas kesehatan.
  • Pentingnya bersikap co-operative termasuk tidak meludah [mengeluarkan dahak] sembarang tempat, serta terbiasa menggunakan masker manakala perlu berinteraksi dengan orang lain.
EPILOG
Mengurai Stigma dan Diskriminasi Menjadi Keperdulian Terhadap Penderita TB memang bukan hal yang mudah, tapi juga BUKAN hal yang mustahil untuk dilakukan. Seperti tercermin dalam bait lagu “Usah Kau simpan Lara Sendiri” berikut ini:
……………………….
letakkanlah tanganmu di atas bahuku
biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
di depan sana cahya kecil 'tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan... menghadapinya ...
sekali sempat kau mengeluh kuatkah bertahan
satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh
kudatang sahabat bagi jiwa
saat batin merintih usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa
………………………………..
Dengan membangun jaring-jaring penyebaran informasi dan pengetahuan yang comprehensive mengenai penyakit TB melalui berbagai media, baik on line [termasuk kompetiblog #SembuhkanTB ini], off line, on air maupun organisasi kemasyarakatan di tingkat RT/RW, maka stigmatisasi di masyarakat menurun akan secara linear akan dan otomatis diskriminasi juga semakin  berkurang. Maka secara bersama-sama kita bisa mencapai tujuan pengendalian TB di Indonesia yaitu:menurunnya jumlah kasus baru TB dengan target jangka panjang adalah zero new infection); menurunnya diskriminasi  hingga ke level zero discrimination; dan otomatis menurunnya angka kematian akibat penyakit TB  yang serendah mungkin.



Untuk Informasi lebih lengkap, bisa dilihat dari beberapa Referensi TB berikut ini:
1. http://www.tbindonesia.or.id/
2. www.stoptbindonesia.org
3. www.tbdayindonesia.org
4. www.pppl.kemkes.go.id


Read More >>

Peran Proaktif Masyarakat sebagai Katalisator Pengendalian TB

Bismillahirrahmaanirrahiim
Secara umum dan sekaligus merupakan fakta jika kemiskinan, lingkungan yang kumuh, demografi penduduk yang padat berdampak significant pada rendahnya kualitas dan derajat kesehatan karena  terbatasnya kemampuan untuk mengakses pola dan  perilaku hidup bersih dan sehat. Kondisi yang komplek tersebut, menjadi pemicu aktif terjangkitnya Penyakit tuberkulosis terhadap komunitas penduduk di daerah tersebut. 
 
 
~ To Be Continue....

Read More >>

MILAD #‎3TahunWB

Bismillahirrahmaanirrahiim


https://www.facebook.com/groups/warung.blogger/?fref=nf
Tik,tak,tik,tak,tik,tak.............
Antara yang berlalu dan yang baru,
Tiga Tahun merangkai kisah dan cerita kebersamaan lintas ruang dan waktu
Kini Menyongsong fajar ulang tahun yang #‎3TahunWB
Adalah setahun waktu menambah lipatan usia,
terkulum menjadi cerita masa lalu
Dua belas purnama menambah bilangan usia

DOA sederhanaku untuk #‎3TahunWB‬, Yang terselip pada labirin hati
Pada fragmen-fragmen tilasan kesan memaknai di kening jiwa
Menghampar pada dekade untaian hari-hari baru
Dengan gelegaknya bermakna menyegarkan tiap sel saraf
Memenuhkan tadabbur tentang jejak-jejak yang tlah berlalu
Kaca benggala diri demi langkah di esok hari
Agar menyuburkan bara asa menoreh warna lebih indah nan KAYA HIKMAH pada bentang usia baru

Dan Harapan tulusku pun tersemat untukmu Dear Warung Blogger:
Tetaplah setia meniti garis-NYA
Bersama Nafiri hati, Mengukir prasasti Indahnya Persahabatan di WARUNG BLOGGER Berlaksa doa untuk teguh memburu ridho Sang ROBB smata, pada setiap jejak lini masa dunia digital
Aamiin Ya Illahi Rabb...




Read More >>

Cerita Cinta Ceria Hp Pertama

Pengalaman punya HP pertama kali? So Bismillahirrahmaanirrahiim WOW pakai banget. Secara untuk bisa memiliki HP pertama kala itu penuh perjuangan dan pengorbanan, maklum saat itu HP masih merupakan barang tersier yang harganya mahal, at least buat saya yang baru bekerja dan gaji bulanan di bawah $100 *Lebay, pakai satuan Dollar* dengan asumsi nilai Dollar sekarang lho ya?. HP pertama yang saya beli adalah NOKIA 3330, dimana secara hitungan harga cukup masih mahal. HP pertama NOKIA 3330 yang bergenre GSM 900/1800 dengan layar monochrome warna silver dan berat 133g, yang cukup luxury-lah di masa itu tapi jadul poll kalau dibandngkan dengan aneka produk henpon era kini. Dalam Setidaknya dua bulan gaji harus saya ikhlaskan untuk membeli HP tersebut plus sim cardnya juga masih kisaran harga 300 Ribu. Saya nekad dan nggagas tho kok beli HP dengan harga di atas THP ~ Take Home Pay? Jika flash back the story behind-nya ya keputusan saya untuk membeli HP kala itu bukan sekadar demi fashion. Wong dibandingkan sama teman-teman, saya termasuk yang terbelakang beli HPnya. Dan di masa itu….*cieee, berasa jaman Flinston* harga HP masih mahal-mahal kan? Saat semua teman kerja sudah berHaPe, saya masih keukeuh bertahan live without HP hampir setahun. Modal sesekali pinjam sekaligus minta pulsa untuk sms jika sangat-sangat butuh berkomunikasi,  kirim sms dengan pesan sesingkatnya: Maksimal 160 Karakter.
Gambar dari en.wikipedia.org
Lantas gimana rasanya saat bisa beli HP pertama kali itu? 
Yang pertama, yaaaa.....nyeseklah…lha gaji dua bulan [kurang dikit sih] saya wujudkan dengan sebentuk barang yang kalau dijual kembali harganya pasti lebih murah, terus secara kontinyu saya juga harus memberi ‘nafkah’ pula?
Yang kedua, excited karena finally saya bisa merasakan hidup di abad modern secara lebih lengkap. Hehehehe…maksudnya gini, rata-rata teman kerja dan kuliah sudah pada punya HP. Lha jadi gimana gettu saat belum punya HP. Dari aspek kebutuhan komunikasi, juga awesome karena komunikasi bisa jadi lebih lancar meski seringnya hanya via SMS yang cukup dengan RP. 350,- setiap SMS. Sebelum punya HP, kan saya kudu ke wartel dulu jika ada perlu bicara sama saudara-saudara saya bertebaran di se-antero pulau Jawa. Selain gak efektif, pulsa SLLJ kan terbilang masih mahal tho? Jadinya dengan punya HP, bisa menghemat cost untuk komunikasi. Selain itu, interaksi dengan teman-teman sekolah/kuliah juga bisa lebih sering daripada sebelumnya yang via surat, YMan atau email duang pas ke warnet. Ya maklum, belum ada Facebook, Twitter, Whatsapp, LINE, Kakao Talk, ETC.
Yang Ketiga, menyamarkan status Jomblo. Ceritanya gini, ketika itu saya dan kedua teman kerja di Lab. Banyuwangi [saat itu masih berlokasi di Muncar] sama-sama masih new comer di dunia kerja dan sama-sama belum ada yang punya pacar. Kedua teman saya tingal di mess dan sesekali saya nimbrung nginep di mess pula. Nah, tiap kami sama-sama di mess iseng-iseng nyalain ringtone HP secara bergantian dalam jeda waktu sekira satu jam. Awalnya sih, ketimbang sepi jadi asal-asalan nyalain ringtone HP. Eh, ternyata Pak BOS yang tinggal di rumah dinas [sebelahan dengan mess] mencermatinya dan menyimpulkan jika kami bertiga sering di telpon oleh pacarnya masing-masing. Demikian beliau bercerita saat di kantor ke teman-teman lainnya. Ya kami bertiga hanya bisa tersenyum simpul dan baru ketawa ngakak saat masuk di ruang Laboratorium, whahahahahaha…

Rekam Jejak HP Pertama saya, NOKIA 3330 dulu - saat ini?
Kalau saat ini, NOKIA 3330 tersebut sudah beristirahat dengan tenang sejak dua tahun lalu. Kata mbakyu ipar, HP Pertama saya itu dengan berat hati harus di-kotak-kan setelah beberapa kali terjatuh dan akhirnya tak bisa lagi diservis, andai bisa diperbaiki, ongkosnya bisa untuk beli baru. Kan sekarang dengan uang dua ratusan ribu sudah bisa beli HP baru tho? Tapi setidaknya, sekitar sepuluh tahun HP NOKIA 3330 tersebut telah menorehkan jejak sejarah dengan penuh cinta

Sekitar dua tahun HP Pertama saya yang semiripan dengan Nokia 3310 itu saya gunakan dan tidak pernah rewel dan battrynya juga tahan lama. Lantaran ingin memotivasi keponakan yang kelas 3 SMA, saya pun menjanjikan HP pada Wiwit jika dia bisa masuk PTN dan bisa meraih IPK tiga, dimana HP tersebut akan saya berikan jika sudah menginjak semester 3. Saya tahu si Wiwit memang bersungguh-sungguh belajar karena ingin keterima di FKU dan bukan semata-mata demi mendapatkan hadiah HP dari saya. Al kisah, meski ‘lewat’ dari filter FKU, Wiwit keterima di Farmasi UNAIR. Maka berpindahlah si Nokia 3330 tersebut ke tangan Wiwit, sedangkan saya mendapatkan ganti Nokia 8310 [semoga gak salah ingat] dari kakak saya. Al kisah cerita cinta ceria selanjutnya, Wiwit lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan, dia pun meng-copas gaya saya untuk memotivasi Adiknya. Singkat cerita, Nokia 3330 kemudian digunakan oleh Aris sampai dia lulus kuliah dan kemudian diberikan pada Ibunya [kakak ipar saya] dan akhir cerita cinta cerita menyertai HP Pertama saya pun usai sekira dua tahun lalu. 

HP yang kedua, beralur setipe dengan HP Pertama, yaitu saya jadikan janji motovasi buat keponakan yang lainya lagi, Andri. Nokia 8310 itu pun saya berikan ke Andri saat dia menginjak semester 3 di UNDIP tapi ending HP ynag kedua ini tragis: hilang dengan sukses.
HaPe yang ada saat ini.
Sedangkan saya sendiri, selain HP Pertama dan kedua yang berlabel Nokia, dua kali juga menggunakan produk Nokia untuk CDMA yang berakhir dengan rusak dan tidak melanjutkan lagi menggunakan CDMA. Setelah dua kali menggunakan [masing-masing untuk GSM dan CDMA], saya pun beralih pada produk lain. Sempat sekali menggunakan Sony Vaio tapi hilang dalam perjalanan Surabaya – Banyuwangi. Berhubung untuk beli Vaio sudah cukup over budget tapi menikmati gak sampai 3 bulan, jadilah saya beli HP Second Motorola V3 di tahun 2009 yang masih bertahan sampai sekarang. Ada juga produk Nexian yang saat ini track ball-nya macet sehingga saya pasifkan. Untuk jenis HP yang layak di sebut gadget yang saya miliki sekarang ya Sony Experia hasil tukar tambah dari Ipod hadiah dari VOA sewaktu ikut lomba blog menang sebagai juara kedua untuk postingan Budidaya Ikan: Solusi untuk musim paceklik dan over fishing

Wah, kok Cerita Cinta Ceria Hp Pertama ini semakin nglantur ya? Summary-nya, cerita HP pertama saya memang membawa cerita cinta ceria karena bisa saya estafetkan sampai ke user yang ke-empat dan mampu bertahan hingga sekitar satu dasa warsa. Bagaimana cerita Anda dengan HP pertama yang pernah dimiliki? Tentunya juga ada warna cinta cerianya ya kan?


Demikianlah, Cerita Cinta Ceria Hp Pertama ini diikutkan dalam 

Read More >>

TB Resistan Obat, Yakin Bisa Dicegah dan Disembuhkan

Pertama kali saya mengenal istilah RESISTAN OBAT ketika Bismillahirrahmaanirrahiim  divonis terkena Typhus saat duduk di bangku SMP. Hampir dua bulan saya diperlakukan ala militer oleh Ibu saya untuk mengkonsumsi obat-obatan yang didapat dari Pak Mantri. Saat itu, tenaga kesehatan yang familiar di desa memang masih bergelelar Pak Mantri dan Ibu Bidan. Keberadaan dokter masih langka, hanya satu orang dan itu pun hanya stand by di puskesmas pada hari-hari tertentu.  Dari hasil pemeriksaan Pak Mantri, saya dinyatakan terkena Typhus dan dikasih beberapa jenis pil yang HARUS saya minum habis. Mendengar pernyataan Pak Mantri tersebut, Ibu pun dengan patuh menerapkan: kapan waktunya minum obat, dosis untuk masing-masing obat seberapa banyak dan pil mana yang harus diminum sebelum atau sesudah makan. Beberapa hari kemudian, saya merasa sudah sehat dan mengajukan interupsi pada Ibu untuk berhenti minum obat. Lha sudah sehat kok tetap minum obat? Begitu pikir saya kala itu. Tapi Ibu tidak menggubris permintaan saya dan tetap mewajibkan untuk menghabiskan obat yang diberikan pak Mantri sampai habis. Nah, pada edisi kunjungan Pak Mantri berikutnya, Ibu menceritakan sikap saya yang tidak mau minum obat lagi.

Lha pengen waras apa gak tho Nduk cah ayu? Gak pengen cepet mlebu sekolah maneh tho, dolanan karo kancane…? ditanya seperti itu, saya pun manthuk-manthuk.
Jadi obatnya itu harus dihabiskan, biar tidak terjadi resistan obat nanti?”. Otomatis saya mlongo big O. Anak baru naik kelas 2 SMP satu bulan, dimasa pesawat TV masih merupakan barang tersier, baju sekolah saja jarang di setrika [karena ribet kalau setrika pakai setrika arang], tentu gak paham apa itu istilah Resistan Obat?!

Resistan Obat itu untuk sakit typhus juga ya Pak?”
Itu kondisi yang akan kamu alami manakala obat yang harusnya dihabiskan, tapi hanya diminum sebagian saja. Bakteri atau virus penyebab penyakitmu akan bertambah sakti sehingga jika kamu sakit lagi akan dibutuhkan obat dengan dosis lebih tinggi dan waktu penyembuhan yang lebih lama. Nah, apakah kamu mau jika terjadi seperti itu?” Dari penjelasan Pak Mantri kesehatan kala itu, satu poin yang saya resapkan di hati dan pikiran: kalau kita sakit, harus patuh dan tidak boleh bawel untuk menghabiskan obat dari dokter. Sejujurnya saat itu logika saya masih mengalami kebingungan dengan penjelasan medis yang dituturkan pak Mantri.

Berdasarkan Sekilas review pengalaman saya saat terkena sakit Typhus, ada benang merah yang bisa saya kaitkan dengan Lomba blog #SembuhkanTB tema serial keempat: TB Resistan Obat, tentang bagaimana pengobatan dan cara mencegah terjadinya TB Resistan Obat, yakni mengenai salah satu jenis obat golongan ANTIBIOTIK yang harus diminum habis dengan patuh dan disiplin. Dari tema tersebut, maka saya menerjemahkan dalam dua point utama: Cara Mencegah dan Cara Menyembuhkan TB Resistan Obat

Hal pertama yang harus disebarkan adalah pemahaman mengenai TB Resistan Obat, bagaimana bisa terjadi dan apa resiko fatalnyanya jika sampai terjadi TB Resistan Obat tersebut. Pemahaman definisi ini mutlak diperlukan untuk diketahui semua orang sebagai pondasi dasar untuk membangun kesadaran [awarennes] mengenali penyakit Tuberkulosis  secara lebih menyeluruh untuk membentuk sikap pro active  [awake] terhadap penyakit TB Resistan Obat.
Resistan obat merupakan kekebalan yang terjadi bakteri, virus dan parasit lainnya, yang terjadi secara bertahap ketika penyebab-penyebab penyakit menular tersebut kehilangan kepekaan terhadap obat yang pada dosis sebelumnya bisa membunuh mereka. Pada saat dosis obat lebih banyak yang digunakan ketika penyakit yang sama muncul kembali, resistensi obat meningkat yang disebabkan oleh penggunaan obat sebelumnya [antibiotik] tidak tepat atau dosis obat tidak dihabiskan
Dan TB Resistan Obat merupakan salah satu kontributor kenapa Indonesia secara memprihatinkan tercatat sebagai negara penyumbang kasus TBC nomor empat di dunia setelah India, china dan Afrika selatan.  Bahkan  hingga saat ini penyakit TB masih menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia setelah stroke, dan untuk Indonesia bagian timur saat ini sudah menjadi nomor satu.

Populasi TB Resistan obat patut diwaspadai mengingat masih banyaknya para penderita TBC yang menganggap penyakitnya tidak lebih serius dari batuk biasa, sehingga manakala proses pengobatan yang baru berjalan beberapa waktu sudah  menunjukkan hasil yang progresif, maka si penderita TBC dengan percaya diri mengklaim penyakitnya sudah sembuh dan tidak perlu lagi melanjutkan proses pengobatan hingga jangka waktu enam bulan selesai. Hasilnya TB Resistan Obat pun bertambah jumlahnya. Jika terjadi kasus demikian, apakah kita harus menyerah dan membiarkannya begitu saja? Mengutip semangat para pahlawan, bahwa perjuangan tidak akan berakhir selama hayat masih dikandung badan, maka meskipun penderita TB [yang tidak patuh menjalani perawatannya hingga statusnya naik menjadi TB Resistan Obat], hal pertama yang perlu kita pedomani adalah TB RESISTAN OBAT, YAKIN BISA DICEGAH DAN DISEMBUHKAN.

Lantas, bagaimana pengobatan dan cara mencegah terjadinya TB Resistan Obat?
Dari pertanyaan tersebut, saya menerjemahkan dalam dua point utama: Cara Mencegah TB Resisten Obat dan bagaimana Cara mengobati penderita TB Resistan Obat.

Yang Pertama, Cara Mencegah TB Resistan Obat  atau preventive action yang berarti upaya - upaya yang dilakukan dalam rangka meminimalkan trigger terjadinya TB Resistan Obat dan TB MDR. Untuk melakukan tindakan pencegahan/preventive action, yakni upaya-upaya yang bisa mencegah sehingga orang tidak menderita TB  Resistan Obat, yang artinya kita harus mengetahui dan paham faktor-faktor yang berpotensi jadi penyebab [Potential hazard] TB Resistan Obat ini.  Berdasarkan faktor-faktor yang umumnya menyebabkan dan memicu TB Resistant Obat umunya terjadi karena pemberian obat yang tidak tepat yaitu pasien tidak menyelesaikan pengobatan yang diberikan, petugas kesehatan memberikan pengobatan yang tidak tepat, baik paduan, dosis, lama pengobatan dan kualitas obat, maka sasaran untuk tindakan pencegahan terjadinya TB Resistan Obat dapat diklasifikasikan dalam dua kriteria, yaitu:
1. Terhadap penderita TB itu sendiri.
Pasien yang menidap TBC memiliki potensi untuk terdampak resiko menjadi penderita TB Resistan Obat ketika tidak menelan obat TB secara teratur atau seperti yang disarankan oleh petugas kesehatan dan atau orang yang Sakit TB berulang serta mempunyai riwayat mendapatkan pengobatan TB sebelumnya.
Yang bisa dilakukan untuk golongan ini adalah:

  • Yang pertama dan utama pilih orang sebagai pendamping yang memiliki kriteria dapat memberikan sugesti positif terhadap pasien untuk sembuh karena sugesti merupakan obat psikologis yang akan memotivasi seseorang untuk membrikan respon cooperative dalam masa pengobatannya yang membutuhkan waktu tidak singkat.
  • Pastinya adanya pendampingan pasien yang pro aktif dan persuasif untuk mengkondisikan agar mereka mengonsumsi semua obat yang diresepkan dengan patuh dan disiplin sesuai dosis obat dan jadwal yang telah di arrangement oleh petugas kesehatan.
  • Langkah berikutnya, untuk memperkuat langkah pertama maka dibutuhkan penumbuhan kesadaran dan kemauan untuk menjalani pengobatan secara total dan sampai dinyatakan sembuh dan bebas dari cemaran bakteri Tuberkulosis, yaitu dengan cara menginformasikan dan memberikan gambaran riil secara intensive bahaya TB MDR bagi pasien TB tentang bahaya yang bisa muncul jika pengobatan TB tidak dijalani sesuai resep yang diberikan, atau bersikap abai terhadap aturan yang telah diberikan oleh dokter/petugas kesehatan karena bilamana sedikit atau sekali saja aturan pengobatan TB dilanggar maka bahaya yang penyakit yang lebih serius bisa terjadi yaitu bisa mengalami TB Resistan Obat yang lebih sulit penyembuhannya.
  • Sangat perlu untuk diinformasikan sejak awal kepada pasien TB agar mereka aware dan awake untuk menjalani pengobatan secara paripurna, yaitu ketika TB meningkat keparahannya menjadi TB Resistan Obat, maka pilihan pengobatan lebih terbatas ketersediaan obatnya dan bisa jadi beberapa jenis obat harus swadana untuk memperolehnya secara cepat dan  situasi ini sangat riskan/membahayakan nyawa. 
  • Walaupun obat TB gratis akan tetapi dari segi aspek non finansial bagi Penderita TB yang jadi resistan Obat sangatlah multi komplek kerugiannya, yaitu: membutuhkan waktu yang lebih lama, jenis jumlah obat yang harus dikonsumsi lebih banyak, ketersediaan pengobatan TB di lini kedua dan selanjutnya belum tentu mudah untuk diperoleh, keleluasaan berinteraksi di lingkungan sosial terbatas, kebersamaan dengan keluarga berkurang, kesempatan untuk mengembangkan karir harus dilepaskan begitu saja dan banyak golden moment yang terpaksa dilewatkan karena harus membatasi ruang gerak dan mobilitas agar tidak menularkan bakteri tuberkulosis pada komunitas yang lebih luas. 

2. Terhadap orang-orang yang tidak menderita TBC tapi memiliki kemungkinan besar tertular TB karena domisilinya yang berasal dari wilayah yang mempunyai beban TB Resistan obat yang tinggi dan atau orang-orang yang memiliki kontak erat dengan seseorang yang sakit TB Resistan Obat. Untuk kelompok ini, usaha-usaha yang bisa dilakukan sebagai langkah preventive antara lain:

  • Membumikan Imunisasi BCG pada bayi yang  mencegah TBC berat pada anak-anak yaitu melindungi untuk waktu 15 tahun. Akan tetapi tetapi vaksinasi BCG ini tidak banyak membantu bagi remaja dan orang dewasa. 
  • Dengan mengusahakan berada dan atau memperbaiki kondisi ventilasi  udara di tempat tinggal masing-masing agar sistem sirkulasi menjadi lancar karena seperti diketahui penyebaran dan penularan Bakteri TB akan sangat kondusif manakala dalam ruangan yang ventilasinya tidak  baik, cahaya dalam ruangan yang tidak memadai dan udaranya cenderung pengap atau lembap.
  • Bagi orang-orang yang memiliki kontak aktif dengan seseorang yang sakit TB, maka setiap kali berinteraksi sangat penting untuk menggunakan masker dissposible, membiasakan cuci tangan sesering mungkin dan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
  • Pola hidup sehat yang meliputi pola makan empat sehat lima sempurna dan olah raga yang rutin benar-benar harus dijalankan secara lebih disiplin, juga konsumsi multivitamin karena kunci utama untuk membentengi diri dari terkontaminasi bakteri TB adalah kondisi kesehatan yang prima. 

Yang Kedua, Cara mengobati penderita TB Resistan Obat yaitu manakala pengobatan lini pertama terhadap penderita TB yang telah diresepkan atau bahkan di pengobatan lini kedua, tidak dilaksanakan sesuai petunjuk dan dosis tertentu yang telah diresepkan sehingga mengakibatkan Penderita TB berubah statusnya menjadi TB Resistan Obat dan atau TB MDR, maka berikut ini beberapa upaya pengobatan yang bisa dilakukan antara lain:

  • Diagnosis laboratorium secara menyeluruh sebagai langkah awal untuk mendeteksi sesorang terdampak TB resistan obat Tb. Deteksi awal TB MDR ini dan memulai lebih cepat terapi merupakan faktor penting untuk mencapai keberhasilan pengobatan TB pada lini kedua dan atau selanjutnya.
  • Ketika seseorang diketahui positif terkena TB resistan obat, maka yakinkan bahwa penyakitnya masih bisa disembuhkan. Hal ini mutlak diperlu dilakukan demi menjaga mental dan psikologis pasien agar tidak drop dan punya motivasi untuk mematuhi semua aturan dan petunjuk yang diberikan selama menjalani pengobatan. minum obat. 
  • Pendamping pasien harus memiliki spirit yang berlipat ganda dan stamina yang tinggi karena mendampingi pasien TB Resistan Obat tentu memiliki tingkat kesulitan lebih kompleks. Di samping, sang pendamping harus siap setiap saat untuk memastikan semua obat dan terapi telah dijalani oleh si pasien dengan sebaik-baiknya sesuai dengan instruksi dokter dan tenaga kesehatan yang menanganinya.
  • Mengurangi kontak langsung dengan banyak orang, agar lebih fokus dalam menjalani terapi dan sekaligus meminimalkan penularan penyakit Tbnya pada orang lain.
  • Diupayakan untuk bisa mengakses udara segar dan berjemur di pagi hari secara rutin.
  • Perbaiki pola hidup menuju ke gaya hidup sehat: berhenti merokok, pola makan 4 sehat lima sempurna dan meningkatkan aktifitas fisik semacam olah raga secara bertahap sesuai kondisi tubuh. 

EPILOG
Hingga saat ini Tuberkulosis masih menjadi maslah kesehatan di dunia yang sangat mengkhatirkan. Khusus untuk Indonesia, penyakit TB ini masih sangat menjadi isu penyakit yang memiliki rangking runner up setelah stroke yang mneyebabkan kematian.  Masih krusialnya penyakit TB ini diperparah dengan timbulnya masalah baru yaitu TB Resistan Obat  akibat  ketidakpatuhan menjalani pengobatan TB pada fase sebelumnya dan atau pengobatan  yang dilakukan tidak sesuai dengan standar pengobatan untuk penyakit TB yang seharusnya sehingga menimbulkan dampak lanjutan baik  berupa resistensi primer dan resistensi sekunder. Deteksi awal TB Resistan Obat dan memulai terapi sedini mungkin dengan tingkat kedisiplinan yang lebih solid adalah faktor penting untuk sembuh dari TB Resistan secara paripurna.


Read More >>